CERPEN


Redupnya Rembulan


      Kala itu, dipersimpangan jalan matraman Jakarta, tepatnya sore hari ketika abdul bergelut pada kerasnya ibukota saat tahun belakangan  terakhir dengan uang yang dihitungnya terasa sangat kurang pada saat menjadi knek kopaja, di dalam hati dia selalu ingin menjerit keras betapa banyaknya beban yang ia harus tanggung, belum lagi tagihan hutang sana sini yang ia harus bayar pada bulan depan belum urusan keluarganya yang harus ia tanggung Sendirian, wajar istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga hanya mengurus buah hati kecil satu satunya yang akan masuk ke bangku sekolah dasar.
Bersama dengan Malik supir sang partner kopajanya.
      Berbeda dengan Abdul, pria yang biasa yang disebut pak Malik ini selalu sabar dan ikhlas dengan apa yang terjadi serta dia selalu berpasrah pada tuhan. Tak jarang saat waktu adzan tiba saat menarik Kopaja dia dengan teguh langsung membelokan stir.        Waktu itu ashar telah tiba dan kursi penumpangnya terisi penuh, perasaan sedikit lega yang dirasakan Abdul telah terobatinya dengan berpikir hari ini dia akan membawa secercah uang ke rumah dengan melakukan makan malam bersama keluarganya dan sedikit demi sedikit bisa membayar uang tagihan kontrakan yang berbulan bulan menunggak bersama bayangan indah Abdul tiba tiba pak Malik pun membelokan stir kopajanya dengan seraya berkata pada penumpang nya "maaf ibu bapak yang sedang menumpang Kopaja ini silahkan turun ke Kopaja belakang" dengan berbagai macam respon yang tidak mengenakan dari para penumpang pun ia hadapi dengan senyuman. Dengan apa yang dilakukan pak Malik pada penumpangnya lantas Abdul pun langsung menggurutu " bang Malik apa Abang sudah engga waras lagi, ini lagi rame bang masa disuruh turun semuanya kita cuma dapet dikit dong hari ini" dengan kesalnya Abdul menggerutu, dengan rasa tenang ia pun membalas gerutuan Abdul "sholat itu adalah kewajiban dul" singkatnya, lalu pak Malik pun segera memarkir kan kopajanya di area masjid terdekat dan Abdul pun dengan rasa masih kesalnya ia hanya menunggu di kursi samping supir sembari melamun dengan menghisap rokok yang tinggal sebatang, namun Abdul tidak pernah berani melawan apa yang dikatakan oleh pak Malik wajar saat pertama ia merantau di Jakarta, tanpa membawa riwayat pendidikan ia seperti tersesat di jalanan hingga akhirnya ada yang mengajaknya menjadi knek kopajanya yaitu pak abdul waktu itu.
     Dengan sendirinya perlahan demi perlahan pak Malik pun menuju masjid menunaikan shalat ashar. Di saat Abdul menunggu dengan masih rasa kesalnya dia masih tetap menggerutu sendirinya dan tidak tau kenapa saat itu sangat lama sekali menunggu pak Malik datang hingga sampai jam 5 sore, dengan menunggu satu jam lebih akhirnya pak Malik pun datang, tampaknya kesabaran Abdul sudah tidak tertahan lagi, saat pak malik belum mengendarai kopajanya Abdul dengan beraninya memaki maki pak Malik "saya heran sama Abang apa gak ada jalan lagi kita lagi susah malah Abang lama lamaan di masjid?", "Kamu mau tau jalan keluar nya?" Dengan sabar pak Malik menjelaskan "yaitu dengan sabar dan sholat", Abdul "cukup bang saya gak tahan lagi dengan kata kata itu" , dengan beraninya Abdul berkata itu dengan melawan "sholat itu cuma menambah beban kita aja bang!". Raut muka pak Malik pun langsung berubah hingga akhirnya dia menjawab "kamu mau bilang gak waras, tolol, konyol sekalipun aku gak peduli tapi jangan pernah kamu hina AGAMAKU!" serasi berkata itu langsung pak Malik menancap gas dengan kencang dengan menuju rumahnya, saat dirumahnya dia dia langsung mengeluarkan semua uang tabungan dia untuk diberikan kepada Abdul dengan berkata "kalo ini uang membuat masalahmu selesai silahkan ambil Dul" diambilah uang itu oleh Abdul dengan berkata " dari dulu dong bang kaya gini, makasih ya bang"
      Hari esok pun telah tiba, rutinitas seperti biasa jam 6 pagi Abdul sudah menunggu di halte Kopaja dengan hati sejuknya namun pak Malik pun belum kunjung tiba hingga jam 8 pun, pak Malik belum tiba juga , hingga datang seseorang teman supir kopajanya anan memberi tahu kepada Abdul dengan bibir bergetar "dul pak Malik meninggal dunia." Dengan raut wajah langsung berubah Abdul pun langsung emosi kepada anan "jangan bercanda nan, pak Malik tuh orang kuat!" Ternyata saat akan berangkat menjemput Abdul pak Malik kecelakaan karena rem nya blong hingga menabrak trotoar lalu sampai terguling kopajanya, saat itu pak Malik langsung tewas seketika. Abdul yang langsung bergegas ke rumah sakit pun langsung melihat jenazahnya pak Malik yang maaf sudah tidak utuh, dia langsung menyesal serta tetes air matanya jatuh perlahan namun sayang ia belum sempat mengucapkan maaf kepada pak Malik.
      Hingga akhirnya itu menjadi penyesalan besar dalam hidupnya dan akhirnya dia pun bertaubat dengan kembali ke jalan yang benar, disaat sedang berdiam di masjid Abdul berkhayal. Andai dia bisa shalat bersama sama pak malik. Berdzikir meng agungkan asmaNya dan selesai dari masjid pun ia pulang perlahan dengan mengingat kisahnya bersama pak Malik serta menetas air mata nya.

Komentar

Posting Komentar