Esay

                                                     BAHAYA MEROKOK BAGI ATLET



      Apakah kalian semua pernah merasa heran dengan orang yang jago bermain sepak bola atau futsal padahal seorang perokok? Kita semua nampaknya punya teman yang seperti ini.

      Teman yang sering mencetak gol, rutin ikut lomba atau kompetisi, bahkan hampir selalu jadi pilihan utama saat bertanding. Dan ketika beberapa menit sebelum dan sesudah pertandingan, ia menyempatkan diri menghisap, setidaknya, satu batang rokok.

      Di antara segolongan olahragawan yang berani mengacungkan jari tengah pada hasil penyelidikan bertahun-tahun tentang tembakau, serta imbauan seram bahaya rokok yang disebarkan, para perokok paling ikonik datang dari cabang sepakbola atau futsal. Sosok atlet maupun pelatih sepakbola ini seakan mengimani merokok sejatinya bagus untuk melatih kekuatan paru-para dan karenanya harus dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan kebugaran seorang olahragawan. Kalaupun mereka tidak percaya pada pandangan nyentrik tersebut, pesepakbola yang nekat merokok kemungkinan besar adalah sosok pemberontak, bohemian anti mainstream, atau setidaknya mereka yang ingin terlihat seperti itu.

      Uniknya, Banyak atlet yang jika ditanya bagaimana sih seorang atlet merokok pasti jawaban nya adalah "biasa saja". Namun, kenapa bisa para perokok menjawab “biasa saja” ketika ditanya pengaruh merokok sebelum dan/atau sesudah olahraga. Dan yang lebih aneh lagi, mereka tetap bisa bermain bagus.
      Pendapat "biasa saja" ini juga akan menimbulkan beberapa dampak buruk kedepannya bagi para atlet.
Dampak buruknya bagi kinerja atlet yaitu penurunan fungsi paru paru dan menurunnya stamina tubuh, sehingga menimbulkan cepat lelah nya seorang atlet ketika sedang perform di atas lapangan.

      Dampak lain dari merokok pada atlet adalah efeknya pada kesehatan jantung dan peredaran darah. Merokok menyebabkan pembuluh darah mengerut dan memblokirnya dengan plak, sehingga berpotensi meningkatkan tekanan darah.

      Mengerutnya pembuluh darah jelas akan mengurangi aliran darah ke otot-otot, lalu membatasi jumlah oksigen yang diterima, dan membuat atlet sesak nafas.

    Dampak buruk selanjutnya adalah memperbesar peluang untuk cedera. Ketika otot-otot, jantung, dan otak tidak menerima cukup oksigen, ketajaman mental dan fisik akan menurun drastis.

      Adapun atlet perokok yang menanganinya dengan latihan lebih keras lagi atau dua kali lipat dari biasanyaa, atau bahkan lebih dari orang yang tidak merokok.

Dari mana semua dampak buruk tersebut berasal? Penyebab utamanya adalah nikotin dan karbon monoksida. Selama proses menghisap rokok, perokok menyerap 1-2 miligram nikotin per batang rokok.
Paparan nikotin melalui rokok menyebabkan stimulasi sistem saraf simpatik yang mengarah ke peningkatan pelepasan katekolamin epinefrin dan norepinefrin dari medula adrenal.
Pelepasan ini menyebabkan nikotin merangsang peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Inilah yang disebut sebagai efek hemodinamik, termasuk bentuk efek lainnya, seperti peningkatan kontraktilitas otot jantung, stroke volume, dan cardiac output.
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berbau, berasal dari pembakaran berbagai bahan bakar dan juga hadir dalam asap tembakau.

      Hal paling berbahaya dari CO adalah sifatnya yang cepat memasuki darah, serta fakta bahwa afinitas hemoglobin untuk mengikat CO adalah 250 kali lebih besar dari afinitasnya mengikat oksigen.
Yang dimaksud afinitas adalah kecenderungan suatu unsur atau senyawa untuk membentuk ikatan kimia dengan unsur atau senyawa lain. Ini menyebabkan hemoglobin dapat lebih mudah mengikat CO, dan menggusur molekul oksigen.

      Karbon monoksida yang mengikat hemoglobin membentuk senyawa carboxyhemoglobin. Pembentukan carboxyhemoglobin tentu akan mengurangi kapasitas tubuh untuk membawa oksigen dari darah.

      Padahal, oksigen sangat dibutuhkan oleh otak, otot, dan jantung, serta organ-organ tubuh lainnya. Selain itu, CO juga dapat mengikat mioglobin yang menyebabkan penurunan signifikan dalam transportasi oksigen ke mitokondria (organel sel tubuh manusia yang berfungsi untuk kegiatan pernapasan sel guna menghasilkan energi).

      Jadi, salah satu kunci untuk menjaga kebugaran, baik perokok, maupun bukan, adalah rutin berolahraga. Dari keseluruhan penjelasan di atas, kesimpulannya tetap sama, yaitu merokok tetap tidak dianjurkan bagi para atlet, maupun bukan.


     

Komentar

Posting Komentar