Novel (eps 1)
LandV
Hebat sekali kamu bisa mencuri hatiku hanya dengan tatapan. Hey pencuri hati! Boleh ya aku lapor polisi?
--------------------------------------------
Gadis manis berkuncir kuda mendaratkan bokongnya pada kursi kantin, dia menaruh mangkuk yang berisi mie ayam, kemudian dia memasukan saus dan sambal ke santapannya itu.
"Anjir V! Sambel lo banyak banget!" Histeris Mika, teman dari gadis manis yang dipanggil 'V'.
"Yaelah, ini mah sedikit, gausah lebay gitu deh." Balas V dengan santainya.
V. Lebih tepatnya Luvilia. Si gadis manis berkuncir kuda. Pencinta makanan pedas.
"Perut lo sakit, baru tau rasa lo V," sahut teman Luvi yang lainnya, Wulan namanya.
"Udah kebal gue." Ucap Luvi. Setelah mengaduk mie ayamnya, Luvi mulai menyantapnya.
Mika menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mie ayam yang disantap oleh Luvi. "Emang enak V?" Tanya Mika.
Luvi mengangguk antusias, "enak, sekali-kali lo cobain saus atau engga sambel, jangan pake kecap mulu lo."
"Mana berani Mika makan sambel. Doyan kecap doang dia mah kaya bocah," ejek Wulan dengan sedikit tertawa. Luvi tertawa mendengar ejekan Wulan. Sedangkan yang diejek, hanya memasang wajah sebalnya.
Mika memilih untuk tidak meladeni ejekan kedua temannya, karena perutnya sudah berteriak-teriak meminta untuk disuguhi makanan.
Disaat tengah asik menyantap makanan, tiba-tiba Luvi menepuk jidatnya sendiri. "Astaga! Gue lupa kalau harus balikin buku ke perpus."
"Lo ga lupa, buktinya sekarang lo inget," komentar Mika dengan polosnya. Luvi mendengar itu memutar bola matanya karena sebal.
Sumpah. Luvi ingin sekali memukul wajah Mika yang polos itu. Menurut Luvi, Mika itu polos-polos minta dihajar.
Tapi jika Luvi pikir-pikir lagi, ucapan Mika memang ada benarnya. Walau hanya sedikit.
"Temen lo tuh Lan, polos-polos minta ditabok." Ucap Luvi, dia menyenggol Wulan dengan siku nya.
"Amit-amit, dia bukan temen gue V," elak Wulan, dia memasang wajah jijiknya pada Mika.
Mika menatap Wulan dengan tatapan memelas dan bertanya-tanya. "Terus selama ini lo anggap gue apa?"
"Babu."
"Bangsat."
See? Benarkan, kata Luvi? Mika itu polos-polos minta dihajar. Walau begitu, Wulan dan Luvi tertawa terbahak-bahak. Suara tawa Luvi yang menggelegar, membuat beberapa orang yang berada di kantin ini melihat ke arah mereka bertiga. Tapi mereka bertiga tidak memperdulikannya, tidak masalah, yang penting mereka bahagia.
Setelah merasa puas menertawakan Mika, Luvi melihat jam yang melingkar ditangannya. Matanya membulat saat tau jika istirahat hanya tinggal beberapa menit lagi.
Luvi berdiri dan mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari kantin. Pergi tanpa pamit pada Mika dan Wulan. Wulan melirik mangkuk disampingnya, lalu mulutnya dengan refleks berteriak, "WOY V! MIE AYAM LO BELUM DIBAYAR!"
Tapi percuma, Luvi sama sekali tidak menggubris teriakan Wulan.
❄❄❄
Luvi berjalan dengan terburu-buru, matanya terus melihat jam yang melingkar di tangan kanannya. Bahaya, jika Luvi terlambat masuk kelas. Masalahnya jadwal pelajaran selanjutnya adalah Fisika. Mata pelajaran yang diajarkan oleh guru killer.
Oke, Luvi tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika Luvi terlambat masuk kelas.
BRUK....
Luvi terjatuh, dia bertabrakan dengan seseorang saat ingin masuk ke dalam perpustakaan. Luvi meringis, lalu dia berdiri, berniat ingin mongomeli orang yang ada dihadapannya ini. Padahal, disini Luvi juga bersalah.
"Lo kalau jal---" Ucapan Luvi terhenti, saat mata Luvi bertatapan dengan orang dihadapannya ini. Mata mereka terkunci untuk beberapa detik.
1...2...3...4...5...6...7...8
8 detik.
Pria itu kemudian berdehem, membuat Luvi tersadar. Tidak, tidak, sedari tadi Luvi sadar, jika pria dihadapannya ini memang tampan. Eh?
Tapi Luvi baru melihatnya, anak baru kah?
Alih-alih penasaran dengan nama pria dihadapannya ini, Luvi melirik ke arah dada pria ini, mencoba mencari tahu siapa nama pria tampan ini.
Samuel Darelza.
Hhh, sekali baca, Luvi langsung menghapalnya. Samuel. Samuel. Samuel. Luvi mengeja nama itu berulang kali dalam hatinya.
Karena Luvi yang sibuk dengan ketampanan Samuel, Samuel pergi meninggalkan gadis idiot ini. Dia tidak mengucapkan sepatah katapun pada Luvi.
Padahal, Luvi berharap Samuel menanyakan keadaannya, atau ya... paling tidak, dia meminta maaf karena telah membuat Luvi terjatuh.
"HEH AI MANEH MEUNI KASEP-KASEP TEING!" Seperti orang tolol. Luvi berteriak pada Samuel yang sudah berlalu.
Luvi gila. Dia gila. Tapi tidak apa, mungkin saja Samuel tidak mengerti apa yang Luvi katakan.
"HEH KASEP URANG APUN ATUH NOMOR HP MANEH!" Teriak Luvi lagi. Kakinya hampir saja ingin mengejar Samuel, tapi tidak jadi, dia masih ingat ada hal yang lebih penting ketimbang Samuel.
Lain kali. Luvi akan benar-benar mendapatkan nomor ponsel Samuel. Pasti. Luvi janji pada dirinya sendiri.
Setelah selesai mengembalikan buku, Luvi kembali ke kelas dengan setengah berlari.
Luvi bernapas lega saat sudah sampai di kelas, dan guru killer itu belum masuk. Luvi duduk dibangkunya, dia mencoba menetralkan napasnya yang sedikit tidak teratur.
"Woy setan, tadi mie ayam lo belum dibayar." Tegur Wulan pada Luvi, saat sadar jika Luvi sudah duduk disampingnya.
"Oia lupa, terus lo bayarin nggak?"
"Enggalah!" Jawab Mika sewot, dia membalikan badannya ke meja Luvi dan Wulan.
Mata Luvi membulat, "Anjir lo berdua pelit amat dah jadi temen,"
"Lo temen gue emang?" Tanya Mika, tatapannya menjadi sinis pada Luvi.
Luvi mengusap wajah Mika dengan tatapan menggemaskannya. Luvi yakin, Mika hanya pura-pura marah padanya.
"Oia, lo kan babu gue."
Wulan dan Luvi terkekeh. Entahlah, diantara mereka bertiga, Mikalah yang sering menjadi bahan tawaan.
"Bangsat ya kamuuu--" Ucap Mika dengan suara yang menggemaskan, bibirnya ia majukan pada Luvi, berniat untuk mencium sahabatnya itu.
Tapi Luvi menjauhkan wajah Mika pelan, "najis, jangan deket-deket."
Ketiganya tertawa renyah.
"Jadi mie ayam gue dibayarin siapa?" Tanya Luvi, dia masih penasaran. Dan tentu saja, dia berniat untuk menggantikannya.
"Lo ngutang sama Bi Cici," jawab Wulan dengan cengiran.
Mata Luvi membulat lagi, kali ini mulutnya sedikit terbuka, agak syok dengan jawaban Wulan.
"Jadi lo berdua bener-bener nggak bayarin mie ayam gue?"
"Enggaklah." Jawab Mika dan Wulan serentak.
Luvi pasrah. Bertahun-tahun berteman dengan mereka berdua, tidak ada yang berubah, Mika dan Wulan masih menyebalkan. Tapi tidak bisa dibohongi, Luvi justru nyaman berteman dengan mereka berdua. Mereka berdua tidak kaku.
Luvi seketika sumringah ketika otakkan kembali mengingat Samuel. Mulutnya sudah gatal ingin segera menceritakan Samuel pada kedua sahabatnya itu.
"Tau nggak?" Tanya Luvi, dia sudah siap untuk bercerita. Tangannya mengisyaratkan Mika dan Wulan untuk mendekat kearahnya.
"Gue tadi tabrakan sama cogan." Bisik Luvi pada Mika dan Wulan.
"YANG BENER LO?" Tanya Mika berhisteris. Dia tiba-tiba menjadi heboh sendiri. Berbeda sekali dengan respon Wulan. Wulan, dia hanya mendengus seraya berucap, "dikira apaan."
"Kasep. Asli, aing nggak bohong." Ucap Luvi dengan bahasanya yang campur aduk itu. Mamah Luvi memang memiliki darah Sunda. Jika di rumah, mamahnya terkadang berbicara dengan menggunakan bahasa khasnya itu, membuat Luvi terkadang mengikuti kebiasaan mamahnya.
Walau terkadang, Mika dan Wulan tidak mengerti. Biasanya mereka berdua akan bertanya artinya pada Luvi, jika mereka berdua benar-benar tidak mengerti apa yang Luvi bicarakan.
"Terus gimana? Lo tau namanya nggak? Lumayan buat koleksi cogan gue." Mika bertanya dengan antusias. Memang, jika membahas perihal cogan, alias 'cowok ganteng', Mika selalu antusias. Maklumlah, jomblo.
"Ga Mik! Ini buat gue. Plis ya, ini buat gue." Ucap Luvi tak kalah antusias. Terlebih saat Luvi tau, cogan miliknya itu, akan direbut oleh Mika. Luvi tidak terima!
"Emang siapa si?" Tanya Wulan. Dia juga ternyata penasaran, walau tidak sampai sepenasaran Mika.
Mika dan Wulan menatap Luvi dengan rasa penasarannya. Luvi lalu mendekat untuk berbisik pada mereka berdua, "Samuel Darelza."
Mika memukul meja Luvi dengan keras, membuat beberapa manusia yang menghuni kelas ini menatap Mika sekilas.
"Itu L! Lo bilang dia biasa aja V! Terus sekarang lo bilang ganteng? Labil lo Tan!"
Luvi mengerutkan alisnya bingung. "L? Orang ganteng dingin yang lo ceritain itu?"
Mika mengangguk, "iya! Lo bilang lo nggak tertarik."
"Siapa bilang gue nggak tertarik?"
"Lo lah!"
Luvi memang wajah tanpa ekspresi pada Mika, "waktu itu, maksud gue, gue nggak tertarik sama cerita lo. Lagian gue baru kali ini liat Samuel."
"Samuel buat gue pokoknya!" Seru Luvi. Dia berbicara serius pada Mika.
"En---" ucapan Mika terhenti saat dirinya sadar jika suasana kelas menjadi hening, ia membalikan badan menjadi ke arah depan.
Terima kasih pada guru Fisika yang sudah datang ke kelas XI Ipa 4 ini. Karenanya perdebatan antara Luvi dan Mika terhenti untuk sesaat.
❄❄❄
Saatnya pulang. Luvi memasukan semua buku yang tadi ia pakai untuk belajar.
Lagi-lagi, Samuel hinggap dalam pikirannya. Luvi ingin dekat dengan Samuel.
Luvi, mungkin ia jatuh dalam pesona Samuel. Mmm... Atau mungkin, bisa dibilang cinta pada pandangan pertama.
"Mik, gue bagi nomor L dong." Pinta Luvi, saat dia sudah siap untuk pergi dari kelas ini.
Wulan menyahut, "emang Mika punya?"
"Punyalah!" Jawab Mika cepat.
"Tapi gue nggak akan kasih. Lo minta aja sendiri." Ucap Mika.
"Kalau lo berani minta nomor langsung ke L, dan L ngasih. Gue kasih L buat lo." Lanjut Mika, dia menantang Luvi.
"Okay! Gue pastiin, gue dapet nomor L dari dianya langsung."
Tentu saja, Luvi akan menerima tantangan Mika. Siapa takut!
"Dan gue pastiin. L jatuh dalam pesona gue."
--------------
Keren ka;(
BalasHapus