Novel (eps 2)
-------------------------------------------------------
Luvi berjalan menuju parkiran sekolah. Luvi memang membawa motor untuk pergi ke sekolah. Padahal, jarak rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh.
Luvi bersenandung dengan riang. Ketahuilah, jika sudah waktunya untuk pulang ke rumah, semangat Luvi membara. Baginya, rumahnya-tidak, lebih tepatnya, kamarnya adalah istananya. Luvi betah walau seharian hanya berdiam diri di kamar.
Jika dikatakan Luvi senang menyendiri, ya, Luvi terkadang senang menyendiri. Entahlah, menenangkan bagi Luvi.
Luvi sudah ada di atas kendaraannya, sudah siap untuk melesat meninggalkan sekolahnya ini. Tapi niatnya terurungkan, saat iris matanya melihat sesosok pria yang sejak beberapa jam yang lalu, selalu hadir dalam pikirannya. Luvi menyipitkan matanya, memastikan apakah benar itu 'dia'.
Dan benar. Itu Samuel.
Luvi menstandarkan motornya lagi, dan dia bediri di samping motornya.
"L....! " Teriak Luvi, tangannya melambai-lambai diatas udara, berharap jika Samuel melihat ke arahnya. Dan... Bingo! Samuel melihat ke arahnya. Luvi tersenyum, lalu dia berlari kecil menuju Samuel yang berdiri tidak jauh darinya.
"L, L, pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Kita kenalan yuk, biar kita bisa saling sayang." Ucap Luvi pada Samuel. Luvi sudah gila sepertinya, dimana urat malunya?
Samuel mengabaikannya. Dia masih pada sikap yang sama; dingin. Tapi sungguh, Luvi justru makin menyukai Samuel yang seperti ini.
Senyum Luvi masih menghias wajahnya, walau dia mendapat pengabaian dari Samuel. Luvi menjulurkan tangannya, dia masih bersih keras untuk berkenalan dengan Samuel, lalu setelah itu, Luvi akan mendapatkan nomor ponsel Samuel. Itu harus. Lagi pula, Luvi sudah berjanji pada dirinya sendiri dan pada Mika.
"Luvilia Anatasya," Ujar Luvi memperkenalkan diri pada Samuel.
Samuel masih mengabaikannya. Ia lebih memilih menaiki motornya, lalu ia mulai menyalakan motornya.
"Wih bang, kok neneng di diemin terus." Luvi mencoba bergurau.
Padahal Luvi sudah mencoba bergurau, dia sudah mencoba untuk bersahabat pada Samuel. Tapi tetap saja, Samuel masih mengabaikannya. Dia kini meraung-raungkan gas motornya. Terlihat seperti disengajakan.
"Ngomong dong! Lo nggak gagu, kan?" Gertak Luvi, dia mulai naik pitam.
"Minggir."
Luvi mengedipkan matanya. Suara Samuel, dia baru mendengarnya. Jantung Luvi jadi berdetak lebih cepat, tak karuan disana. Lalu kemudian Luvi menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri untuk tidak melamun karena pesona Samuel.
"Minggir, lo nggak tuli kan?" Samuel menegaskan Luvi. Tapi Luvi masih diam didepan motor Samuel. Dia tidak akan menyerah.
"Gak! Sebelum lo ngasih nomor ponsel lo ke gue."
"Sejak kapan si sekolah ini nerima orang gila?" Samuel menyindir.
Luvi menatap Samuel tidak percaya. Luvi menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya, "maksud lo gue gila?"
Samuel mengangkat bahunya acuh, disusul oleh Luvi yang menggerakan bahunya seperti Samuel.
"Nggak masalah, gue emang gila karena lo." Celetuk Luvi.
"Gila!"
"Karena lo!"
"Minggir!"
"Sini dulu nomor ponsel lo."
Samuel berdecak kesal. Dia menghembuskan napasnya kasar. "Gue tabrak lo!" Ancam Samuel, dia sudah memainkan gas motornya, bersiap untuk menabrak gadis gila yang menghalanginya untuk pergi dari sekolah ini.
"Silahkan." Kata Luvi pasrah.
Mendengar itu, Samuel makin menjadi-jadi memainkan gas motornya. Setelah merasa cukup, tangan kanan Samuel menggas motor Satria FU nya itu, tidak benar-benar menjalankan, motor Samuel hanya maju sedikit. Walau begitu, tindakan Samuel membuat Luvi terjatuh.
Luvi tidak menyangka, Samuel akan benar-benar menabraknya.
Luvi meringis kesakitan. Seperti gerakan refleks, Samuel mestandarkan motornya dan menghampiri Luvi yang masih terduduk dibawah.
"LO BENERAN MAU NABRAK GUE YA? MAU BUAT GUE MATI YA?!" Sembur Luvi menjadi-jadi, suaranya naik beberapa oktaf. Cempreng, sampai-sampai Samuel menutup kedua telinganya, berjaga-jaga agar telinganya tidak rusak.
"SAMUEL! YANG LO LAKUIN KE GUE TUH JAHAT! LO JAH---" Ucapan Luvi terhenti, tatkala Samuel membekap mulut Luvi. Luvi membulatkan matanya, kaget. Luvi meronta-ronta untuk melepaskan tangan Samuel dari mulutnya, namun tidak bisa.
Samuel menempatkan telunjuk dibibirnya, "Sstt, jangan teriak. Kasian yang denger teriakan lo, nanti mereka budek."
Dengan tenaga yang sangat kuat, Luvi menghempaskan tangan Samuel dengan kasar. Dan usahanya itu berhasil membuat mulutnya bebas dari dekapan tangan Samuel.
"TUH KAN LO JAHAT SAM---" Lagi-lagi Samuel membekap mulut Luvi. Bukan apa-apa, Samuel takut orang-orang yang mendengar teriakan Luvi akan berpikir yang tidak-tidak.
Luvi benar-benar berisik. Hari ini, Samuel sudah sangat lelah jika harus berurusan dengan Luvi. Dan Samuel sudah mengambip keputusan. Hanya ini satu-satunya cara aga dia bisa cepat pulang, dan istirahat di kamarnya.
"Diem, nanti gue kasih nomor ponsel gue."
Dibalik tangan Samuel, Luvi tersenyum. Dia mangangguk-angguk pada Samuel. Dan dengan perlahan, Samuel melepas tangannya pada mulut Luvi.
❄❄❄
Luvi tersenyum melihat kontak seseorang di ponsel miliknya.
LnyaV❤
Begitulah Luvi menamai kontak Samuel. Tidak sia-sia dia berteriak-teriak untuk mendapatkan nomor ponsel Samuel.
Janjinya pada Mika, dan dirinya sendiri terpenuhi. Dan artinya, Mika tidak akan merebut L nya. L nya tidak akan masuk ke dalam incaran Mika.
Luvi masuk kedalam aplikasi pesan online yang berlogo warna hijau itu, bibir Luvi langsung tersenyum saat melihat ada kontak Samuel disana.
Luvi melihat foto profil Samuel. Alis Luvi mengerit saat melihat Foto yang Samuel gunakan.
Foto tangan yang sedang bergandengan?
Statusnya sibuk. Oke, Luvi yakin, Samuel memang sengaja memasang foto itu, karena dia tidak memiliki stock foto lagi. Tangan Luvi dengan cepat mengetikan pesan untuk Samuel.
Halloooo L! Ini Luvilia. Cecan yang lo tabrak tadi. Salken ya! Btw, panggil aja gue V:)
Centang satu. Luvi mengerucutkan bibirnya, Samuel tidak aktif data. Sebal!
Merasa bosan, Luvi membuka aplikasi sosial medianya. Otak cerdasnya bekerja, dia penasaran apakah Samuelnya memiliki sosial media? Luvi menelusuri nama Samuel Darelza. Dan akun yang Luvi yakinin Samuel hanya satu; Ldrelza.
Luvi menstalk akun itu. Kiriman 1. Pengikut 1014. Dan mengikuti 0. Dengan cekatan Luvi melihat kiriman dari Ldrelza itu.
Sebuah foto yang menampilkan seseorang dari belakang, yang sedang melihat bulan. Luvi memperbesar foto itu, matanya mencoba memastikan apakah benar itu Samuel. Butuh waktu beberapa menit, sebelum Luvi sadar jika itu memang benar Samuel.
"Anjir itu beneran L!" Jerit Luvi, dia sampai berdiri di kasurnya. Seorang pria dingin juga ternyata memiliki akun sosial media.
Luvi langsung mengikuti akun Samuel. Dan beberapa detik setelah itu, ada sebuah pesan masuk. Luvi dengan tidak sabaran mengecek pesan tersebut, berharap itu adalah balasan dari Samuel. Dan selamat Luvi, harapanmu terkabul.
Maaf, anda salah sambung.
Luvi menyatukan alisnya. Apa katanya? Salah sambung? Tidak mungkin. Samuel sendiri yang mengetik nomornya di ponsel Luvi.
Luvi tertawa, "L ternyata bisa ngelawak juga ya." Cerocos Luvi.
Hahahahaha. L, lo lagi ngajak bercanda gue ya?
Maaf anda benar-benar salah sambung. Saya bukan L.
Aduh, L, lo pikir gue bisa dibohongin? Lo bilang gitu, biar gue nggak ngechat lo, kan?
Detik berikutnya, foto Samuel menghilang. Saat Luvi mengecek statusnyapun sudah tidak ada. Luvi diblock.
"Anjir! L mah bener-bener dah!"
"Bomat gue telpon ah."
Dengan modal tekad, Luvi menghubungi Samuel.
Panggilan pertama, tidak diangkat. Panggilan kedua, masih tidak diangkat. Luvi mendengus kesal. Sekali lagi. Luvi akan menghubungi Samuel sekali lagi.
"Hallo?" Sapa orang disebrang sana. Namun Luvi terdiam.
"Hallo? Maaf, ini siapa ya?" Tanya seseorang dalam panggilan itu. Suaranya seorang pria, tapi Luvi tidak yakin jika itu suara Samuel. Rasanya... Sangat berbeda.
"Lo... Beneran bukan L ya?" Tanya Luvi pada akhirnya.
"Bukan, tadikan gue--" Suara orang itu terputus, karena Luvi memutuskan panggilannya. Luvi melempar sembarang ponselnya di kasur, lalu dia menutup mukanya menggunakan bantal. Seharusnya tadi dia percaya sejak awal.
Samuel. Dia menipu. Itu bukan nomor Samuel. Luvi mengutuk Samuel dalam hatinya. Lihat saja besok. Luvi akan protes pada Samuel, yang sudah berani-beraninya berbohong.
❄❄❄
Perpustakaan sekolah, disinilah Luvi berada. Kakinya berjalan mengitari perpustakaan ini, mencoba mencari sosok Samuel.
Tepat di pojokan perpustakaan, Luvi melihat Samuel yang sedang duduk berselonjor diantara rak-rak buku. Luvi berhenti beberapa langkah dari keberadaan Samuel.
Mata Samuel terpejam. Ada headset yang terpasang ditelinganya. Tenang sekali wajah Samuel, rasa kesal Luvi seketika jadi berkurang. Luvi tersenyum melihat Samuel. Dengan langkah yang pelan, Luvi berjalan mendekati Samuel.
Luvi berjongkok disamping Samuel. Luvi mendekatkan mulutnya pada telinga Samuel,kemudian, ia melepas headset yang berada di telinga Samuel, "Lo bohong ya sama gue?" bisik Luvi.
Samuel terlonjak kaget. Dia menjauhkan badannya dari Luvi. "Gila!"
Luvi menyengir. "Perasaan gue disebut gila mulu deh,"
Samuel mengabaikannya, dia memasang headsetnya kembali. Namun, Luvi tidak membiarkannya, ditariknya lagi headset Samuel.
"Gue lagi ngomong sama lo anjir!" Kata Luvi dengan suara yang dibuat sekecil mungkin. Samuel beruntung, karena Luvi masih ingat jika ini perpustakaan. Jika tidak, Luvi Sudah mengeluarkan suara emasnya itu.
Samuel menatap Luvi dingin. Dia siap menerima ocehan Luvi yang menyebalkan-bagi Samuel.
"Lo ngasih nomor palsu ya ke gue?" Tanya Luvi to the point.
Samuel mengerutkan alisnya, "Maksud lo?"
"Nomor yang lo kasih kemarin bukan nomor lo. Lo bohong sama gue!"
"Gue nggak bohong! Itu nomor gue!"
Luvi mengeluarkan ponselnya, ia tunjukan chatnya dengan orang yang entah siapa, Luvi tidak tau. Samuel merebut ponsel Luvi, dia mengecek kembali nomor ponselnya.
Satu persatu angka Samuel perhatikan, dan ternyata benar. Nomor yang Samuel masukan kemarin, salah. Angka terakhirnya salah.
"Angka terakhirnya salah. Sorry, gue nggak maksud bohong ke lo." Ucap Samuel memberi tau Luvi.
"Ganti." Titah Luvi dengan enteng.
"Nggak. "
"Tuh kan! Lo sengajakan kemarin?"
"Nggak!"
"Yaudah, kalau gitu ganti!"
"Nggak!"
"Lo kemarin berarti bohongkan sam--" Luvi tiba-tiba bungkam, saat Samuel dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Luvi.
Luvi mencoba mundur, untuk menjauh dari Samuel. Tapi, saat Luvi mencoba mundur, detik itu juga Samuel maju pada Luvi.
"Mau apa lo?!" Tanya Luvi. Hampir saja Luvi berteriak pada Samuel.
Luvi terus melakukan gerakan mudur. Dan entah karena apa, Luvi jatuh. Posisinya menjadi tertidur di lantai. Bukannya menjauh, Samuel justru semakin mendekatkan diri pada Luvi.
Luvi menahan dada Samuel. Pipinya entah sejak kapan memanas. Dadanya juga berdetak tidak karuan.
"Ja-ja-jangan ma-cem ma--" Seketika Luvi menjadi sulit untuk mengeluarkan suaranya.
Mata Luvi terpejam, saat Samuel benar-benar mendekatkan wajahnya pada wajah Luvi. Luvi sudah tidak kuat melihat wajah Samuel dari dekat. Terlalu tampan. Rasanya Luvi ingin berteriak, tapi dia masih sadar jika ini perpustakaan.
Samuel tersenyum miring saat Luvi memejamkan matanya karena ketakutan. Samuel lalu mendekatkan wajahnya pada indra pendengaran Luvi. "Gue benci dibohongin. Maka dari itu, gue juga engga akan pernah bohong ke orang lain. Paham?"
------------------
Luvi berjalan menuju parkiran sekolah. Luvi memang membawa motor untuk pergi ke sekolah. Padahal, jarak rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh.
Luvi bersenandung dengan riang. Ketahuilah, jika sudah waktunya untuk pulang ke rumah, semangat Luvi membara. Baginya, rumahnya-tidak, lebih tepatnya, kamarnya adalah istananya. Luvi betah walau seharian hanya berdiam diri di kamar.
Jika dikatakan Luvi senang menyendiri, ya, Luvi terkadang senang menyendiri. Entahlah, menenangkan bagi Luvi.
Luvi sudah ada di atas kendaraannya, sudah siap untuk melesat meninggalkan sekolahnya ini. Tapi niatnya terurungkan, saat iris matanya melihat sesosok pria yang sejak beberapa jam yang lalu, selalu hadir dalam pikirannya. Luvi menyipitkan matanya, memastikan apakah benar itu 'dia'.
Dan benar. Itu Samuel.
Luvi menstandarkan motornya lagi, dan dia bediri di samping motornya.
"L....! " Teriak Luvi, tangannya melambai-lambai diatas udara, berharap jika Samuel melihat ke arahnya. Dan... Bingo! Samuel melihat ke arahnya. Luvi tersenyum, lalu dia berlari kecil menuju Samuel yang berdiri tidak jauh darinya.
"L, L, pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang. Kita kenalan yuk, biar kita bisa saling sayang." Ucap Luvi pada Samuel. Luvi sudah gila sepertinya, dimana urat malunya?
Samuel mengabaikannya. Dia masih pada sikap yang sama; dingin. Tapi sungguh, Luvi justru makin menyukai Samuel yang seperti ini.
Senyum Luvi masih menghias wajahnya, walau dia mendapat pengabaian dari Samuel. Luvi menjulurkan tangannya, dia masih bersih keras untuk berkenalan dengan Samuel, lalu setelah itu, Luvi akan mendapatkan nomor ponsel Samuel. Itu harus. Lagi pula, Luvi sudah berjanji pada dirinya sendiri dan pada Mika.
"Luvilia Anatasya," Ujar Luvi memperkenalkan diri pada Samuel.
Samuel masih mengabaikannya. Ia lebih memilih menaiki motornya, lalu ia mulai menyalakan motornya.
"Wih bang, kok neneng di diemin terus." Luvi mencoba bergurau.
Padahal Luvi sudah mencoba bergurau, dia sudah mencoba untuk bersahabat pada Samuel. Tapi tetap saja, Samuel masih mengabaikannya. Dia kini meraung-raungkan gas motornya. Terlihat seperti disengajakan.
"Ngomong dong! Lo nggak gagu, kan?" Gertak Luvi, dia mulai naik pitam.
"Minggir."
Luvi mengedipkan matanya. Suara Samuel, dia baru mendengarnya. Jantung Luvi jadi berdetak lebih cepat, tak karuan disana. Lalu kemudian Luvi menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri untuk tidak melamun karena pesona Samuel.
"Minggir, lo nggak tuli kan?" Samuel menegaskan Luvi. Tapi Luvi masih diam didepan motor Samuel. Dia tidak akan menyerah.
"Gak! Sebelum lo ngasih nomor ponsel lo ke gue."
"Sejak kapan si sekolah ini nerima orang gila?" Samuel menyindir.
Luvi menatap Samuel tidak percaya. Luvi menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya, "maksud lo gue gila?"
Samuel mengangkat bahunya acuh, disusul oleh Luvi yang menggerakan bahunya seperti Samuel.
"Nggak masalah, gue emang gila karena lo." Celetuk Luvi.
"Gila!"
"Karena lo!"
"Minggir!"
"Sini dulu nomor ponsel lo."
Samuel berdecak kesal. Dia menghembuskan napasnya kasar. "Gue tabrak lo!" Ancam Samuel, dia sudah memainkan gas motornya, bersiap untuk menabrak gadis gila yang menghalanginya untuk pergi dari sekolah ini.
"Silahkan." Kata Luvi pasrah.
Mendengar itu, Samuel makin menjadi-jadi memainkan gas motornya. Setelah merasa cukup, tangan kanan Samuel menggas motor Satria FU nya itu, tidak benar-benar menjalankan, motor Samuel hanya maju sedikit. Walau begitu, tindakan Samuel membuat Luvi terjatuh.
Luvi tidak menyangka, Samuel akan benar-benar menabraknya.
Luvi meringis kesakitan. Seperti gerakan refleks, Samuel mestandarkan motornya dan menghampiri Luvi yang masih terduduk dibawah.
"LO BENERAN MAU NABRAK GUE YA? MAU BUAT GUE MATI YA?!" Sembur Luvi menjadi-jadi, suaranya naik beberapa oktaf. Cempreng, sampai-sampai Samuel menutup kedua telinganya, berjaga-jaga agar telinganya tidak rusak.
"SAMUEL! YANG LO LAKUIN KE GUE TUH JAHAT! LO JAH---" Ucapan Luvi terhenti, tatkala Samuel membekap mulut Luvi. Luvi membulatkan matanya, kaget. Luvi meronta-ronta untuk melepaskan tangan Samuel dari mulutnya, namun tidak bisa.
Samuel menempatkan telunjuk dibibirnya, "Sstt, jangan teriak. Kasian yang denger teriakan lo, nanti mereka budek."
Dengan tenaga yang sangat kuat, Luvi menghempaskan tangan Samuel dengan kasar. Dan usahanya itu berhasil membuat mulutnya bebas dari dekapan tangan Samuel.
"TUH KAN LO JAHAT SAM---" Lagi-lagi Samuel membekap mulut Luvi. Bukan apa-apa, Samuel takut orang-orang yang mendengar teriakan Luvi akan berpikir yang tidak-tidak.
Luvi benar-benar berisik. Hari ini, Samuel sudah sangat lelah jika harus berurusan dengan Luvi. Dan Samuel sudah mengambip keputusan. Hanya ini satu-satunya cara aga dia bisa cepat pulang, dan istirahat di kamarnya.
"Diem, nanti gue kasih nomor ponsel gue."
Dibalik tangan Samuel, Luvi tersenyum. Dia mangangguk-angguk pada Samuel. Dan dengan perlahan, Samuel melepas tangannya pada mulut Luvi.
❄❄❄
Luvi tersenyum melihat kontak seseorang di ponsel miliknya.
LnyaV❤
Begitulah Luvi menamai kontak Samuel. Tidak sia-sia dia berteriak-teriak untuk mendapatkan nomor ponsel Samuel.
Janjinya pada Mika, dan dirinya sendiri terpenuhi. Dan artinya, Mika tidak akan merebut L nya. L nya tidak akan masuk ke dalam incaran Mika.
Luvi masuk kedalam aplikasi pesan online yang berlogo warna hijau itu, bibir Luvi langsung tersenyum saat melihat ada kontak Samuel disana.
Luvi melihat foto profil Samuel. Alis Luvi mengerit saat melihat Foto yang Samuel gunakan.
Foto tangan yang sedang bergandengan?
Statusnya sibuk. Oke, Luvi yakin, Samuel memang sengaja memasang foto itu, karena dia tidak memiliki stock foto lagi. Tangan Luvi dengan cepat mengetikan pesan untuk Samuel.
Halloooo L! Ini Luvilia. Cecan yang lo tabrak tadi. Salken ya! Btw, panggil aja gue V:)
Centang satu. Luvi mengerucutkan bibirnya, Samuel tidak aktif data. Sebal!
Merasa bosan, Luvi membuka aplikasi sosial medianya. Otak cerdasnya bekerja, dia penasaran apakah Samuelnya memiliki sosial media? Luvi menelusuri nama Samuel Darelza. Dan akun yang Luvi yakinin Samuel hanya satu; Ldrelza.
Luvi menstalk akun itu. Kiriman 1. Pengikut 1014. Dan mengikuti 0. Dengan cekatan Luvi melihat kiriman dari Ldrelza itu.
Sebuah foto yang menampilkan seseorang dari belakang, yang sedang melihat bulan. Luvi memperbesar foto itu, matanya mencoba memastikan apakah benar itu Samuel. Butuh waktu beberapa menit, sebelum Luvi sadar jika itu memang benar Samuel.
"Anjir itu beneran L!" Jerit Luvi, dia sampai berdiri di kasurnya. Seorang pria dingin juga ternyata memiliki akun sosial media.
Luvi langsung mengikuti akun Samuel. Dan beberapa detik setelah itu, ada sebuah pesan masuk. Luvi dengan tidak sabaran mengecek pesan tersebut, berharap itu adalah balasan dari Samuel. Dan selamat Luvi, harapanmu terkabul.
Maaf, anda salah sambung.
Luvi menyatukan alisnya. Apa katanya? Salah sambung? Tidak mungkin. Samuel sendiri yang mengetik nomornya di ponsel Luvi.
Luvi tertawa, "L ternyata bisa ngelawak juga ya." Cerocos Luvi.
Hahahahaha. L, lo lagi ngajak bercanda gue ya?
Maaf anda benar-benar salah sambung. Saya bukan L.
Aduh, L, lo pikir gue bisa dibohongin? Lo bilang gitu, biar gue nggak ngechat lo, kan?
Detik berikutnya, foto Samuel menghilang. Saat Luvi mengecek statusnyapun sudah tidak ada. Luvi diblock.
"Anjir! L mah bener-bener dah!"
"Bomat gue telpon ah."
Dengan modal tekad, Luvi menghubungi Samuel.
Panggilan pertama, tidak diangkat. Panggilan kedua, masih tidak diangkat. Luvi mendengus kesal. Sekali lagi. Luvi akan menghubungi Samuel sekali lagi.
"Hallo?" Sapa orang disebrang sana. Namun Luvi terdiam.
"Hallo? Maaf, ini siapa ya?" Tanya seseorang dalam panggilan itu. Suaranya seorang pria, tapi Luvi tidak yakin jika itu suara Samuel. Rasanya... Sangat berbeda.
"Lo... Beneran bukan L ya?" Tanya Luvi pada akhirnya.
"Bukan, tadikan gue--" Suara orang itu terputus, karena Luvi memutuskan panggilannya. Luvi melempar sembarang ponselnya di kasur, lalu dia menutup mukanya menggunakan bantal. Seharusnya tadi dia percaya sejak awal.
Samuel. Dia menipu. Itu bukan nomor Samuel. Luvi mengutuk Samuel dalam hatinya. Lihat saja besok. Luvi akan protes pada Samuel, yang sudah berani-beraninya berbohong.
❄❄❄
Perpustakaan sekolah, disinilah Luvi berada. Kakinya berjalan mengitari perpustakaan ini, mencoba mencari sosok Samuel.
Tepat di pojokan perpustakaan, Luvi melihat Samuel yang sedang duduk berselonjor diantara rak-rak buku. Luvi berhenti beberapa langkah dari keberadaan Samuel.
Mata Samuel terpejam. Ada headset yang terpasang ditelinganya. Tenang sekali wajah Samuel, rasa kesal Luvi seketika jadi berkurang. Luvi tersenyum melihat Samuel. Dengan langkah yang pelan, Luvi berjalan mendekati Samuel.
Luvi berjongkok disamping Samuel. Luvi mendekatkan mulutnya pada telinga Samuel,kemudian, ia melepas headset yang berada di telinga Samuel, "Lo bohong ya sama gue?" bisik Luvi.
Samuel terlonjak kaget. Dia menjauhkan badannya dari Luvi. "Gila!"
Luvi menyengir. "Perasaan gue disebut gila mulu deh,"
Samuel mengabaikannya, dia memasang headsetnya kembali. Namun, Luvi tidak membiarkannya, ditariknya lagi headset Samuel.
"Gue lagi ngomong sama lo anjir!" Kata Luvi dengan suara yang dibuat sekecil mungkin. Samuel beruntung, karena Luvi masih ingat jika ini perpustakaan. Jika tidak, Luvi Sudah mengeluarkan suara emasnya itu.
Samuel menatap Luvi dingin. Dia siap menerima ocehan Luvi yang menyebalkan-bagi Samuel.
"Lo ngasih nomor palsu ya ke gue?" Tanya Luvi to the point.
Samuel mengerutkan alisnya, "Maksud lo?"
"Nomor yang lo kasih kemarin bukan nomor lo. Lo bohong sama gue!"
"Gue nggak bohong! Itu nomor gue!"
Luvi mengeluarkan ponselnya, ia tunjukan chatnya dengan orang yang entah siapa, Luvi tidak tau. Samuel merebut ponsel Luvi, dia mengecek kembali nomor ponselnya.
Satu persatu angka Samuel perhatikan, dan ternyata benar. Nomor yang Samuel masukan kemarin, salah. Angka terakhirnya salah.
"Angka terakhirnya salah. Sorry, gue nggak maksud bohong ke lo." Ucap Samuel memberi tau Luvi.
"Ganti." Titah Luvi dengan enteng.
"Nggak. "
"Tuh kan! Lo sengajakan kemarin?"
"Nggak!"
"Yaudah, kalau gitu ganti!"
"Nggak!"
"Lo kemarin berarti bohongkan sam--" Luvi tiba-tiba bungkam, saat Samuel dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Luvi.
Luvi mencoba mundur, untuk menjauh dari Samuel. Tapi, saat Luvi mencoba mundur, detik itu juga Samuel maju pada Luvi.
"Mau apa lo?!" Tanya Luvi. Hampir saja Luvi berteriak pada Samuel.
Luvi terus melakukan gerakan mudur. Dan entah karena apa, Luvi jatuh. Posisinya menjadi tertidur di lantai. Bukannya menjauh, Samuel justru semakin mendekatkan diri pada Luvi.
Luvi menahan dada Samuel. Pipinya entah sejak kapan memanas. Dadanya juga berdetak tidak karuan.
"Ja-ja-jangan ma-cem ma--" Seketika Luvi menjadi sulit untuk mengeluarkan suaranya.
Mata Luvi terpejam, saat Samuel benar-benar mendekatkan wajahnya pada wajah Luvi. Luvi sudah tidak kuat melihat wajah Samuel dari dekat. Terlalu tampan. Rasanya Luvi ingin berteriak, tapi dia masih sadar jika ini perpustakaan.
Samuel tersenyum miring saat Luvi memejamkan matanya karena ketakutan. Samuel lalu mendekatkan wajahnya pada indra pendengaran Luvi. "Gue benci dibohongin. Maka dari itu, gue juga engga akan pernah bohong ke orang lain. Paham?"
------------------
;ggg
BalasHapusMantulll
BalasHapus